Menjadi cantik itu mudah. Tersenyumlah, senyum setulus-tulusnya, sebahagia-bahagianya.
Menjadi cantik, sesederhana itu
Cantik
May 27, 2012 at 12:45 pm (Uncategorized)
bbm “ciri-ciri cinta”?
May 26, 2012 at 10:50 pm (Uncategorized)
Pagi ini, saya mendapat (apa ya istilahnya? “broadcast”?) bbm dari salah satu partner kerja. Sebelum saya buka, saya lihat sedikit isinya yang terpampang di layar, tulisannya gini, “ciri-ciri orang yang mencintai kamu…”. Saya buka dan baca baris paling bawah. Oh, ternyata ada 11 poin. Kemudian kursor saya geser ke atas, sampai di poin pertama.
“Ciri-ciri orang yang mencintai kamu..
1. Bla bla bla..
2. Bla bla bla..”
Dan sampai di poin kedua, pikiran saya berkata “tutup”, tapi masih ada rasa ingin tahu dalam diri saya, kemudian saya baca poin ketiga. Belum tamat baca poin ketiga, otak seolah memerintahkan mata saya untuk tertutup dan tangan saya spontan menutup isi bbm itu.
Fana.
Itu yang ada di pikiran saya. Tentang cinta, yang dia kirim ke saya itu, fana. Sejujurnya, saya takut. Saya takut, jika saya baca bbm itu sampai habis, maka saya akan terpengaruh oleh isinya, dan mendefinisikan cinta menjadi semacam itu. Mewajarkan sesuatu yang belum tentu wajar, membolehkan sesuatu yang belum tentu boleh, mengiyakan sesuatu yang belum tentu iya. Membuat pasti sesuatu yang nggak pasti. Karena terlalu mempercayai sesuatu yang nggak pasti itu benar-benar menakutkan bagi saya.
Call me “cemen”, “labil”, “pengecut”, atau apapun lah, saya nggak peduli. Untuk saat ini, saya hanya NGGAK ingin pemikiran-pemikiran semacam isi bbm itu memasuki pikiran saya yang nggak stabil. Pemikiran yang pada akhirnya membuat saya berpikir yang saya lakukan adalah benar. Pemikiran yang akan membentuk pandangan dan pola pikir saya.
Saya sedang menggali fakta tentang cinta, bukan mencari opini dari mereka. Yang saya ingin tau adalah esensinya dan apa yang Tuhan janjikan tentang itu..
Ilmu
May 24, 2012 at 1:42 pm (Uncategorized)
Sometimes I heard people said, “benar-benar rugi orang yang nggak berilmu itu”. Awalnya saya merasa bisa memaknai itu. Saya setuju. Tapi setelah tahu lebih dalam, saya ngerasa kayak ditampar. Apa yang saya tau, ibaratnya cuma nyenggol aja, bukan ke intinya. Kalimat tersebut menyimpan makna jauh jauh jauh lebih dalam dari yang saya pikirkan.
Ilmu, begitu luasnya. Ilmu dunia, ilmu akherat. Saya harap, akan slalu ada orang-orang yang bisa mengajarkan saya dengan baik, agar saya bisa benar-benar mengerti dan mendapatkan pemaknaan yang benar dari ilmu-ilmu itu.
my grandparent – III
May 24, 2012 at 10:11 am (Uncategorized)
Dia bilang, “Pa, itu ada mbah kakung Pa disitu”, ke om saya sambil menunjuk ke arah jendela. Om saya denga heran bertanya, “Mana?”. “Itu lhoo Pa. Itu lho, mbah kakung senyum Pa”, katanya lagi sambil menunjuk ke jendela. “Sekarang sudah pergi Pa”, katanya kemudian. Well, saya nggak tau apa yang sebenarnya sepupu saya lihat, tapi mungkin eyang kakung khusus pamit ke Nicholas. Nicholas, cucu yang paling jarang bertemu eyang kakung, karena om saya sangat sibuk bekerja dan jarang bisa ikut kumpul di Klaten. Tapi emang deh, Nicholas ini sering banget ngelihat makhluk-makhluk yang nggak kelihatan kayak gitu.
Pesan dalam surat beliau, seperti memotivasi saya untuk belajar. Kadang kalau rasa malas menghampiri, saya coba mengondisikan diri untuk mengingat dan merasakan isi surat itu. Mengingat kedua sosok di atas, selalu memberikan rasa hangat tersendiri, penuh kasih sayang. Dan nggak jarang, mata saya juga jadi ikut panas ketika mengingat mereka.
Ada yang pernah bilang, doa untuk orang yang beda agama biasanya nggak dikabulkan. Tapi perkara itu, siapa yang tau kan? Kayak kata teman saya, Natali..biar pun beda “operator”, yakin aja pesan doa kita tetep tersampaikan. Saya yakin doa saya untuk mereka berdua tersampaikan dengan baik.
:’)
May 24, 2012 at 9:57 am (Uncategorized)
Eyang kakung juga suka berkomunikas lewat surat. Kalau ibu pulang ke Klaten sendiri (karena kami nggak sedang liburan), baliknya ibu pasti bawa surat dari beliau. Itulah mengapa kalau Ibu ke Klaten, kami slalu titip surat untuk beliau. Kata ibu, beliau senang menerima surat dari kami, dan menyimpannya selalu.
Saya ingat, suatu hari ibu pernah pulang dari Klaten dan membawa banyak oleh-oleh dari eyang putri dan sepucuk surat dari eyang kakung. Dengan wajah sedih ibu kasih surat itu ke kami. Saya kira “ada apa?”, karena saya nggak menemukan kabar buruk di surat itu. Cuma saja tulisannya semakin sangat sulit dibaca. Trus ibu bilang gini, “Mbah itu sekarang sudah nggak bisa nulis lho. Tapi tetep kemarin itu maksa nulis surat buat kalian. Ibu yang baca aja nggak tega, tulisannya jadi kayak gitu”. Saat itu, saya yang masih kecil, menganggap itu sesuatu yang biasa. Tapi sekarang lain. Di mata saya beliau adalah sosok yang hebat. Untuk orang seusia beliau, melihat saja pasti susah kan? Menulispun tangan pasti bergetar (beliau jalan saja sudah pakai tongkat). Tapi surat yang beliau tulis masih bisa kami baca, meskipun sangat susah untuk membacanya.
Saya ingat, isi surat terakhir dari beliau untuk kami. Kejadiannya sebelum gempa Jogja tahun 2006. Beliau berpesan agar kami sekolah setinggi mungkin, menjadi anak yang pandai dan berguna. Beliau menyampaikan keinginannya agar kami dapat melanjutkan ke peguruan tinggi.
Beliau begitu ingin kami kuliah, lulus dengan baik, dan menjadi “orang” di kemudian hari, agar bisa bermanfaat bagi orang lain.
Sewaktu musibah gempa di Jogja melanda, Klaten ikut terkena. Rumah di Klaten rubuh, yang tersisa tinggal tembok kamar tidur eyang kakung yang masih berdiri kokoh. Tembok lainnya sudah runtuh, tinggal sisanya setinggi lutut. Saat itu beliau terluka. Sedang eyang putri yang sewaktu kejadian sedang berada di luar rumah, nggak ikut terluka. Hari itu juga, bapak, ibu, budhe, pakdhe, dan keluarga-keluarga dari Jakarta langsung kembali ke Klaten. Bapak cerita, saat tiba di Klaten, keadaan sungguh mengenaskan. Orang nangis dimana-mana. Rumah-rumah runtuh. Mayat dimana-mana. Sewaktu sampai di rumah Klaten, eyang kakung berhasil diselamatkan, beberapa bagian tubuhnya terluka. Saat itu hujan deras dan nggak ada tempat berteduh. Disitu, bapak dan saudara-saudara lainnya yang sudah datang, dan juga sanak keluarga dari para tetangga, yang masih sehat, membantu memegang terpal agar para korban bisa berteduh di bawahnya. Saya ngeri kalau bayangin. Reruntuhan dimana-mana, gempa susulan terus datang, banyak orang terluka, beberapa bahkan sudah jadi mayat, nggak ada penerangan lampu-lampu (penerangan kacau), hujan deras, dan mereka harus memegangi terpal agar yang lain bisa berteduh di bawahnya. Di suasana seperti itu, eyang kakung saya melakukan suatu hal yang sungguh di luar dugaan. Kata bapak, beliau berdoa dengan agak keras dalam bahasa Jawa. Dan isinya doanya kira-kira begini, “Ya Tuhan, hamba mohon ridhomu. Semoga cucu hamba Putri, yang di Surabaya, diterima di perguruan tinggi yang baik”. Sewaktu itu, sebenarnya beliau juga menyebutkan bahwa ingin kakak saya bisa berkuliah di UGM. Eyang saya memang ingin cucu-cucunya semua kuliah di UGM. Penyebabnya satu, agar bisa lebih dekat dengan beliau berdua. Perjalanan Jogja-Klaten kan cuma sekitar satu jam.
Doa beliau terkabulkan, tapi bukan di UGM. Saat itu, kakak saya lulus seleksi PMDK jalur prestasi di Farmasi Unair. Padahal agak nggak mungkin juga, soalnya jalur PMDK prestasi ini yang daftar ratusan (atau ribuan ya?), tapi yang diambil cuma sekitar 20 orang. Melihat riwayat kakak saya yang slama SMA suka nyontek, nggak pernah ke perpustakaan kecuali buat nyarat, nggak pernah ikutan bikin karya ilmiah atau tugas kelompok, dan lain-lain, rasanya nggak mungkin banget dia bisa lulus tes PMDK prestasi. Karena tes PMDK prestasi ini terkenal sebagai seleksi yang paling sulit dilalui (dari seleksi lainnya untuk masuk Unair). Mungkin yang bisa diterima lewat jalur ini cuma orang-orang beruntung (saya nggak termasuk).
Beliau senang sekali meskipun cucunya nggak jadi kuliah di UGM. Karena menurut beliau, dengan masuk Farmasi, kakak saya akan bisa banyak belajar tentang kesehatan, sehingga nantinya bisa membantu banyak orang, untuk menjaga kesehatannya. Dan ini membuat beliau bangga.
Surat dari beliau, amanah itu juga yang saya pegang ketika hendak melanjutkan study ke perguruan tinggi. Sekalipun ada beberapa perselisihan waktu itu, dan jalannya nggak lancar, tapi saya tetap berusaha melaluinya.
Beliau meninggal di suatu hari Minggu, ketika saya akan berangkat les untuk SNMPTN. Saya batal berangkat, dan langsung ke Klaten bersama ibu, budhe, pakdhe (alm), dan saudara sepupu saya. Saya dan sepupu yang dari Jakarta, menangis saat melihat jenazah beliau. Salah satu sepupu saya yang masih balita, Nicholas, berdiri di dekat peti mati beliau malam itu.
my grandparent – I
May 24, 2012 at 9:21 am (Uncategorized)
Kata Ibu, mbah putri sedang sakit. Hmm..untuk sosok perempuan sebaik dan setangguh itu, mungkin sudah saatnya saya memanggilnya “eyang”. Eyang putri.
Eyang putri saya sosok perempuan yang penyabar, baik, dan all out. Saya inget banget bagaimana antusiasnya beliau menciumi kami, kalau kami, cucu-cucunya, rame-rame main ke Klaten. Raut wajahnya bahagia, membuat orang lain ikut bahagia. Seolah-olah beliau begitu lamaaaaa menunggu kedatangan kami. Ada beliau dan alm mbah kakung, let me call him eyang kakung. Keduanya mencium kami dengan antusias. Malam menjelang tidur, biasanya saya dan saudara-saudara berkumpul di kamar, cerita-cerita, berbagi makanan atau oleh-oleh yang dibawa masing-masing, lalu eyang putri masuk. Ngelihatin kami bercanda, kadang ikutan ngobrol sama kami.
Sepupu saya Gracia, pernah menyebut beliau “mbah Jini”. Awalnya gini, eyang kakung itu namanya “Sastrohardjono”, dan biasa dipanggil “Pak Jono”. Menurut sepupu saya, kalau orang laki namanya Jono, maka yang perempuan a.k.a istrinya, namanya harusnya Jini. Kami semua tertawa saat itu.
Seringkali malam hari saat kami berkumpul di kamar, beliau masuk, ikutan ngobrol, sambil memijat kami satu-satu. Yah, kami cucu yang manja. Setiap ke Klaten dan ketemu eyang putri, kami seperti membikin antrean untuk dipijat. Dan eyang putri dengan bersemangat melakukannya. Kadang yang dapat jatah terakhir, bisa sampai ketiduran dipijat beliau. Nggak pernah beliau bilang capek atau apa. Hal yang paling bikin beliau senang adalah kalau kami ke dapur, menemaninya masak, dapurnya terpisah di belakang. Walau kadang beliau bilang, “Kowe mengko diseneni ibumu lho, Ngger. Ayo masuk saja..”, kalimatnya slalu campuran bahasa Jawa dan Indonesia. Gara-garanya, adek-adek sepupu saya yang tinggal di Jakarta nggak familiar sama beberapa bahasa Jawa. Actually, eyang putri nggak benar-benar ingin kami masuk, soalnya beliau justru ngajarin kami masak pakai tungku (seru banget, sumpah! Bahan bakarnya pakai blarak). Beliau cuma takut dimarahi ibu sama tante-tante kami. Biasa, ibu mesti marah kalau saya mainan di dapur. Mungkin takut saya kebakar kali ya, soalnya saya sukanya main di tungku itu. Atau takut anaknya bau asap? Whatever, yang jelas ibu bakal marah ke eyang putri, kalau tau kami dibiarkan main deket tungku. Tapi kadang eyang putri justru nemenin kami di dapur trus bilang “ojo kondho ibumu yo ngger, mengko aku diseneni ibumu”, dengan nada super lucuuuu. Serius, pengen ketawa kalau inget itu.
Ah, mengingat beliau, saya jadi kangen. Kangen sama Klaten. Sebelum gempa dulu, saya dan sepupu-sepupu biasa main di ruang gamelan, bikin tenda di ruang tamu (sumpah demi apapun, ruang tamunya luaaaaas banget. Panjang ruang tamunya itu sama kayak mulai pintu depan sampai ke tempat cuci piring rumah saya. Sekitar 10 meter saya rasa. Dan lebarnya mungkin sekitar 7 meter), sampai main tidur-tiduran di hammock (tempat tidur gantung) yang digantung di bawah pohon-pohon kelapa dan mlinjo di halaman depan rumah. Siangan dikit, biasanya om dan tante ngajak kami jalan-jalan, silaturahim ke rumah sodara-sodara di sekitar situ, sama eyang kakung dan eyang putri. Kalau kami pergi rekreasi ke candi Borobudur atau Prambanan, atau ke tempat-tempat lainnya, eyang kakung dan putri biasanya nggak ikut. Beliau berdua stand by di rumah, menunggu kami pulang. Nanti pas kami pulang, selalu ada air hangat buat yang ingin mandi, ataupun teh hangat. Kami dipijitin.
Uwaaahh…kangen banget! Pokoknya suasana di Klaten itu akrab banget, sangat hangat. Nggak tergantikan.
Setelah liburan selesai, kami harus pulang kembali ke kota masing-masing. Saya dan keluarga budhe saya kembali ke Surabaya, Gaby dan keluarga om-tante saya kembali ke Jakarta. Di saat ini, biasanya kami nangis dan bilang pengen libur lebih lama lagi. Iya, serius, kami nangis, begitu juga eyang putri. Dari kaca belakang mobil saya bisa melihat beliau berdoa dan sedikit menangis. Doanya mengantar kepulangan kami.
Beliau sosok yang sederhana, sangat sederhana, tapi penuh kasih. Mengimbangi eyang kakung saya. Ibu selalu bercerita kalau eyang kakung (alm) adalah sosok yang sangat keras. Tapi kami cucu-cucunya nggak pernah merasakan kerasnya sifat beliau. Justru di mata saya, beliau itu sosok yang sederhana, lucu, penyayang, dan berkarisma.
Eyang kakung saya mantan lurah. Beliau menjadi lurah dulu, sewaktu jaman PKI. Beliau pernah dipenjara karena dituduh melindungi PKI. Ini juga yang menghambat karir ibu di masa pemerintahan orde baru. Saya rasa beliau sudah mengalami banyak fase sulit dalam hidupnya.
Sekalipun sudah pindah agama ke Katholik, tapi eyang kakung seorang pembaca Al-Qur’an yang fasih. Pernah sewaktu masih hidup, beberapa tahun sebelum meninggal, beliau sakit keras. Demam, dan gula darahnya meningkat. Waktu itu beliau berdoa, membaca surat Al-Fatihah. Mungkin beliau nggak peduli ya, apapun “bahasanya”, beliau tetap ingin berkomunikasi dengan Tuhan, dan apa yang diingatnya saat sedang kritis adalah bacaan surat itu.
mimpi buruk
May 23, 2012 at 10:44 pm (Uncategorized)
Semalem mimpi, panjaaaaaaaang banget. Mulai dari jadi sukarelawan buat evakuasi korban kecelakaan pesawat, trus ditali di heli dan diterbangkan ke atas gunung buat evakuasi (sumpah, ini ngeriii banget rasanya mimpi ini!). Sampai di lokasi, keadaannya nyeremin banget! Mayat gelempangan dimana-mana. Trs selesai jadi sukarelawan, balik ke tempat tinggal. Ada anak kecil, anaknya tetangga, yang sering main bareng saya. Sebut aja namanya Adi. Lucu banget nih Adi, lincah, tapi kadang nakal. Trus suatu hari, tiba-tiba dapat kabar kalau bapaknya Adi meninggal, ditembak perampok. Adi yang tadinya lincah, langsung berubah jadi pemurung. Ibunya mati-matian berusaha menghibur.
Trus tiba-tiba setting berganti, saya berada di tengah teman-teman, yang saya nggak kenal. Disitu ada empat orang selain saya. Dua cowok, dua cewek. Sebut aja namanya Dika, Rio, Ina, sama Caca. Critanya, Dika ini suka sama Caca, trus Ina suka sama Rio. Tapi Dika nggak bilang kalo dia suka sama Caca. Trus suatu hari, ada sebuah pertunjukkan, lupa apa namanya. Saya pergi kesana sama si Dika. Sedang si Caca, pergi bertiga sama Ina dan Rio.
Pas sampai di lokasi, Dika cerita banyak ke saya, salah satunya kenapa dia nggak ngasih tau Caca kalau dia suka. Katanya, dia ngrasa nggak pantes buat Caca. Secara fisik, emang si Caca ini cantik, anggun, putih, model cewek-cewek yang agak judes kalo belum kenal, tapi anggun dan sebenernya baik. Pas lagi ngobrol sama Dika, tiba-tiba Caca nyamperin. Dia bilang, minta ditemenin nonton di tempat duduk dekat panggung. Awalnya Dika berat soalnya dia pergi sama saya, tapi saya suruh Dika buat ngeiyain. Kapan lagi coba ada kesempatan dia duduk berdua aja sama gebetan sambil nonton pertunjukkan.
Saya ngamati dari jauh, mereka ngobrol, ketawa, dan bahkan saling tatap mata (dan saya tau tatapan itu bener-bener bukan tatapan biasa). Selesai dari pertunjukkan itu, Caca kembali ke Rio sama Ina yang lagi pacaran (gile, mimpi saya ababil banget yaa???), sedang Dika menghampiri saya. Dia berterima kasih dan cerita tentang betapa senangnya dia. Dia bercerita dengan menggebu-gebu, dan penuh harapan. Dia bilang, Caca juga memberikan respon, seperti suka sama dia. Malam itu membahagiakan buat kami semua. Saya sebagai “penonton” juga ikut senang.
Keesokannya, kabar mengejutkan tiba. Dika datang ke rumah saya dengan wajah super muram dan mata merah. Saya tanya, kenapa, dia diam saja. Kemudian kami pergi ke rumah Caca bersama. Dan kaget bukan main saya waktu tahu kalau Caca meninggal. Dari keterangan Ina dan Rio, saya jadi tau kalau semalam, sepulang dari pertunjukkan, Caca sempat menyendiri. Entah mau nelpon atau kirim sms atau apalah. Trus pada saat itu, dia dirampok. Ina sempet melihat itu, tapi dia terlambat, karena perampok itu sudah keburu menusuk Caca.
Shock. Itu yang saya rasakan. Saya nggak percaya dan nggak bisa bayangin gimana shock nya Dika. Bahkan saya saja yang mengamati dari jauh, masih bisa ingat gimana ekspresi wajah Caca semalam.
Waktu berlalu, sampai suatu hari saya pergi ke Solo. Tiba-tiba saya sampai di suatu jalan yang sepiiii banget. Disitu saya lihat ada Ina, ternyata dia asli Solo. Ina sedang sendiri. Tiba-tiba ada laki-laki yang menghampirinya dan mengacungkan pisau. Saya kaget, saya takut. Anehnya, mereka berdua seolah tidak ada yang menyadari kehadiran saya. Dari apa yang saya lihat dan dengar, saya baru tau kalau laki-laki itu perampok yang membunuh Caca (kok bisa sampai Solo sihh??). Ternyata, si perampok ke Solo untuk mengejar Ina dan ingin membunuh Ina juga. Karena satu-satunya yang ngelihat wajah si perampok waktu membunuh Caca, cuma Ina. Pengen ngehilangin saksi kayaknya. Tapi si perampok ini masih kalah ilmu sama Ina yang jago silat. Sewaktu kondisi Ina agak terpepet, tiba-tiba datang om nya. Om nya ini jauh lebih jago silat. Akhirnya si perampok berhasil dikalahkan.
Saya jadi teringat tentang kematian ayahnya Adi tadi, jangan-jangan ini perampok yang sama juga? Ah, entahlah..
Dan tiba-tiba mimpi saya berakhir disitu. Saat terbangun, hal yang paling saya inginkan adalah adanya seseorang di sisi saya yang nggak keberatan untuk saya bangunkan, dan mendengar saya bilang, “Aku mimpi serem, panjaang banget!”.
Leader – Study Case Masterchef Australia
May 20, 2012 at 2:44 pm (Uncategorized)
Hari ini rebutan TV lagi sama ibu dan Mbak Ni. Mereka ngotot pengen liat resepsi pernikahannya anang-ashanty (ngapain jugaaaa gitu ya), saya ngotot pengen liat masterchef. Untungnya program yang nyiarin resepsi anang-ashanty nih iklannya lama. Jadi bisalah dimonopoli buat liat masterchef (junior maupun dewasa).
Disini, yang mau saya bahas bukan masterchef junior, tapi masterchef australia yg orang-orang dewasa. Mengagumkan emang lihat mereka masak, keren banget, seksi banget!
Para peserta dibagi jadi dua kubu, tim biru dan merah. Tim merah memasak untuk keluarga seorang koki lepa, namanya Tua. Saya rasa makanannya lezat bangeeett..keliatan dari tampilannya :9
Tim biru memasak di rumah keluarga biasa. Rumahnya bagus tapi dapurnya sempit. Seenggaknya, buat menampung 9 orang anggota mereka, terlalu sempit. Akhirnya dua peserta harus memasak di belakang.
Singkat kata, setelah babak masak-memasak dan cicip-mencicipi, mereka masuk ke dalam babak penjurian. Saling memberikan komentar dan sebagainya.
Di babak ini, saya mengamati problem yang ada pada tim biru. Menurut para juri, tim biru mampu menyediakan hidangan yang amazing, inovatif, dan lezat. Tapi terjadi masalah di dalam tim biru. Kapten tim biru (lupa namanya, tapi cewe itu cantik kurus rambut pendek) mengaku pekerjaan itu cukup berat. Dia bilang, dalam suatu tim, nggak cuma kapten yang perlu mendukung tim, tapi tim juga perlu mendukung si kapten dan dia nggak merasakan adanya dukungan dari timnya. Kemudian juri meminta tanggapan atas pernyataan si kapten, pada salah satu anggotanya (tim biru). Si anggota tim biru bilang, mereka nggak merasakan kepemimpinan dari si kapten. Tim mereka terdiri dari para koki ahli yang bisa menciptakan hidangan yang wow, tapi mereka seperti tidak memiliki kapten.
Mendengar pernyataan salah satu anggotanya, sang kapten menyanggah (dalam sesi lain). Dia bilang, “Aku sudah berusaha keras”. Jadi menurut saya, disini masalahnya.
Mungkin dalam suatu tim belajar kelompok, dan bahkan dalam keluarga, hal ini bisa terjadi. Ketika sang kapten, pemimpin, atau bahkan kepala keluarga merasa telah berusaha keras melakukan yang terbaik, sementara dia juga merasa anggotanya tidak memberi dukungan yang cukup padanya, maka disini ada gap. Gap antara ekspektasi anggota pada pemimpin.
Bagaimana mengatasi masalah ini? Setiap tim, setiap keluarga, punya caranya sendiri.
Yang pasti, kita sudah bisa mengidentifikasi adanya gap disini. Para anggota sudah seharusnya mengetahui kapasitas pemimpinnya, mengapa memilihnya sebagai pemimpin, dan lain-lain. Sedang si kapten, hey come on, you are the captain! Kamu pemimpin, bukan pimpinan. Ayo, buka telingamu. Identifikasi apa ekspektasi mereka. Itulah peran seorang pemimpin, leader. Keluhan seorang leader bukan untuk mengeluh, namun untuk mengidentifikasi dan mengalokasikan kemampuannya. Untuk belajar dan untuk berbenah.
Kenapa seseorang dipilih untuk jadi pemimpin? Karena dia punya kemampuan tentu, karena dia punya tanggung jawab, karena dia mampu menahan emosinya agar tetap dapat berpikir jernih menyelesaikan permasalah dalam tim. Mendengar, itu kunci sebagai pemimpin. Mendengar, bergerak, dan mendukung. Kemampuan untuk memengaruhi, itu kehebatan seorang leader.
Apa yang kamu, itu yang kamu terima. As a leader, harusnya si kapten tim biru ini bersyukur anggotanya bisa mengkritik dengan jujur. Bagi seorang leader, kritikan harusnya menjadi masukan.
Kalau saya nggak salah, Newton pernah bilang, aksi=reaksi, benar? Itu juga yang terjadi pada hubungan leader dengan followers. Leader yang mampu memberi sentuhan kepemimpinannya pada follower, akan mendapat respon yang diinginkan juga. Mother Teresa (forgive me, I forget how to spell ‘teresa’-nya..hehe..) pernah berkata, apa yang kamu berikan itu juga yang kamu dapatkan.
Sebagai leader, pasti membutuhkan dukungan dari follower. Tapi dukungan dan segala itu akan terpenuhi ketika leader mampu melakukan kewajibannya dengan baik. Jika belum, maka nggak usah banyak berharap. Follower, sudah jadi kewajibannya untuk aktif berpartisipasi. Ada tiga kemampuan yang harus dimiliki seorang leader. Kemampuan interpersonal, kemampuan mengambil keputusan (dengan segala pertimbangan matang), dan satunya (kalau saya nggak salah) kemampuan berkomunikasi (komunikasi yang baik, menyebarkan berita yang harus disebarkan, dll). A leader should has these three points. Ditambah pengendalian emosi yang baik, maka sempurnalah dia.
Well, itu tadi tanggapan saya mengenai seorang leader, jika dilihat dari kacamata disiplin ilmu saya, manajemen. Bukan sekedar teori ini, karena teori ini lahir dari praktek, keadaan di lapangan. Jadi, jika kapten tim biru tadi langsung melakukan penyanggahan terhadap tanggapan anggotanya, menurut saya, dia tidak cukup baik sebagai seorang pemimpin. Sematan sebagai pemimpin, kapten, ketua, dan semacamnya, adalah sematan yang berat dan penuh tanggung jawab.
May 19, 2012 at 5:06 am (Uncategorized)
God, it is the time I return it all to you. I have no right to love as deep as that. And I have no right to expect much.
Please save me, until the rain stopped and I could step with certainty.