Bersabarlah

Hello world,

It’s me again.

Kita tak pernah dan tak boleh bosan untuk bertemu, karena adanya kamu maka akupun ada. Begitu pula sebaliknya.

Dunia, semua andai jadi tak bernilai, karena kamu tak mungkin membawaku kembali. I know that for sure. Maka disini aku ucapkan terima kasih untuk segala suka duka yang terukir dalam masa lalu yang kumiliki. Indahnya, sedihnya, bahkan penyesalan akan kesempatan-kesempatan yang terbuang sia-sia, semua itu satu paket.

Dunia, aku siap melangkahkan kaki ke depan tanpa berpikir menyayangkan kesempatan yang telah aku lewatkan. Karena segala “what if”, tak akan pernah berhasil, aku pernah mencoba mempertahankannya dan gagal.

Hidupku hari ini dan esok, bukan lah “another ‘what if'”.

Dunia, karena penyesalan maka aku belajar. Karena kegagalan maka aku bangkit. Karena kehilangan maka aku bisa menerima. Esok bukanlah esok tanpa hari ini.

Dunia, titipkan rindu dan salamku padanya, sampaikan pesanku ini..

“Bersabarlah, masa depanku”.

Kembang Api, Terompet, dan Pergantian Tahun Masehi

Baru saja kita memasuki tahun 2016, sejak sekitar 19 jam yang lalu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, semenjak Indonesia mengenal terompet dan kembang api, maka keduanya menjadi “peralatan perang” wajib di perayaan-perayaan termasuk tahun baru. Nggak cuma di Indonesia kok, bahkan di luar negeripun begitu. Lihat saja beritanya di televisi.

Suasana menjadi gaduh memang, namun “gaduh” ataupun “meriah” itu predikat yang sangat subjektif, tergantung siapa yang merasakan efeknya. Misalnya bagi saya, tentu saja efeknya gaduh, karena si duo yang lagi enak-enak bobo beberapa kali terbangun gegara mendengar suara kembang api dan terompet. Padahal booook, kalau kebangun tengah malam itu bakal sulit tidur lagi! Tapi ya udahlah, toleransi saja. Toh hampir semua pernah merasakan sensasinya menyalakan dan melihat kembang api. Indah.

Keesokan paginya, tepatnya pagi tadi (1 Januari 2016), mulai berterbangan komentar-komentar pro-kontra mengenai perayaan tahun baru, baik di status BBM, status FB, twitter, share link, dan media sosial internet lainnya. Eh, bahkan khutbah shalat jumat di masjid dekat rumah sayapun membahas perayaan tahun baru. Klise!

Sudah bisa ditebak lah, yang beredar kebanyakan kometar kontra dan kebanyakan dihubungkan dengan soal agama. Ada yang tidak setuju karena itu kebiasaan yahudi, umat muslim tidak begitu. Ada pula yang beralasan itu semacam kebodohan, membakar uang lewat kembang api. Marah karena merasa bising dengan bunyi terompet. And many more.

Sejujurnya, itu semua termasuk nyinyur kan ya? Yah, kita tahulah bahwa setiap orang bisa saja khilaf dan memang berhak untuk nyinyir, tapi saya tetap berpikir bahwa merayakan atau tidak itu bisa jadi alasannya berbeda dengan yang kita pikirkan.

Coba,, kalau menyalakan kembang api di malam tahun baru dianggap perayaan yang sia-sia atau meniru yahudi, lantas sebaiknya kapan kembang api besar nan indah itu dinyalakan? Merayakan tahun baru, dinyinyirin. Merayakan ulang tahun, dinyinyirin. Merayakan Lebaran pun dinyinyirin juga. Terus kapan bisa menikmati indahnya kembang api?

Kita mesti menyadari bahwa  bumi ini dihuni oleh manusia-manusia dengan beragam karakter. Kita nggak bisa memaksakan bahwa kelompok kita yang paling benar.

Mereka yang menyinyirkan peran kembang api dan terompet saat pergantian tahun bisa jadi tidak mengerti indahnya langit yang dihias kembang api. Saya pribadi tidak memaknai itu sebagai perayaan yang sia-sia karena sejujurnya pikiran saya refreshed dengan melihat keindahan itu. Mungkin efek refreshedmya setara seperti setelah menangis ketika berdoa (dengan catatan, nggak ngelihat kembang api saat ikutan konvoi. Itu sih buset dah, nggak bisa menikmati indahnya suasana pergantian tahun). Mereka yang nyinyir itu mungkin nggak paham bahwa dunia ini dihubi oleh banyak golongan.

Terompet dan kembang api identik dengan perayaan pergantian tahun itu benar, namun perayaan itu tidak seburuk yang kita pikirkan kok. Think positive!🙂

You

You live here in my mind. You are a pieces story in my past. You’re not my ex, nor my spouse. But you are real. Unfortunately, you that I knew, will never be the same as you are in present. That is why I hope he can be like you. Because you are the only one figure of a mature person in my life that I never regret.

NT

This is not the life I want..

Salah satu faktor yang mendorong saya untuk menikah adalah membangun kehidupan yang baru, kehidupan yang dirancang sendiri, diwujudkan sendiri, dan tidak harus mengikuti aturan main dari orang tua. Tapi ternyata saya salah. Menikah itu menimbulkan risiko yang justru sebaliknya, yaitu hidup di antara dua keluarga yang memiliki aturan yang harus saya ikuti.

So far saya merasa begitu. Setiap hendak mengambil keputusan baik pada saat menikah, hamil, melahirkan, bahkan kini saat merawat dua bocils, ada saja pihak yang turut campur. Memberikan pertimbangan dengan mengintervensi itu beda lho. Jujur saja, hal ini membuat saya risih. Katakanlah, kami ini newbie, kami ini pasangan yang masih kurang pengalaman. Tapi kami tau siapa dan apa yang harus diprioritaskan. Uang? Prestise? Pekerjaan? Ataukah anak?

Saya seringkali merasa disuruh untuk melakukan ini ataupun itu, bagaimanapun juga hal itu membuat saya muak. Seringkali saya terdorong untuk bercerai, dan itu bukan hal yang tidak mungkin bagi saya. Bukan pasangan saya yang mendorong timbulnya rasa ini, tapi kondisi di sekitar kami.

When I look at my babies, I know that they’re the most important thing in my life. Seperti kedua orang tua dan kedua saudara saya. Tapi di saat yang sama saya pun menyadari bahwa bukan ini yang saya harapkan ketika memilih suatu jalan. Seringkali saya berharap ada lorong waktu yang bisa mengembalikan saya ke masa 5 tahun lalu dan saya akan memilih jalan yang lain, tapi saya tau itu mustahil saat ini. Jika pun bisa kembali ke masa lalu, ada dua yang ingin saya bawa dari masa sekarang, yaitu putera kembar saya. Satu-satunya yang tidak ingin saya tinggalkan dari kondisi saat ini, hanya mereka.

😦

Hamil Pertama #skip duluuuu

Kehamilan saya sudah menginjak minggu ke 32 lebih 2 hari. Saya harap abak-anak masih betah di dalam rahim meski tendangan mereka sudah lebih sering dan kuat sekali sekarang. Mereka masih harus di dalam perut untuk mematangkan organ-organ tubuhnya. Poor me, di usia kehamilan segini justru saya kena sakit batuk pilek. Kasihan kakak adik, bundanya sakit. Semoga meski masih di dalam perut, itu nggak menyerang mereka ya. Saya nggak berani minum obat soalnya😥

Kemarin Jumat saya skip kontrol ke dokter yang biasanya, Dr. Hermanto SpOG. Pertimbangannya, selain karena hujan, minggu ini saya prefer kontrol ke dokter BPJS saya, Dr. Rianto SpOG meski harus biaya sendiri. Yup, mau nggak mau saya urus BPJS juga, melihat biaya persalinan sesar di Surabaya yang cukup tinggi. Setidaknya dengan BPJS, saya hanya perlu menambah biaya obat dan ruang. Jadi dananya bisa dialokasikan untuk kebutuhan darurat, semisal adik dan kakak butuh penanganan lanjutan (semoga saja enggak ya, semoga mereka sehat walafiat kayak bapaknya), atau untuk keperluan selanjutnya. Ya, masyarakat sudah diwajibkan ikut BPJS, so kenapa harus kita abaikan manfaatnya yang jadi hak kita? Harapan saya, akan ada kedekatan antara pasien dan dokter, karena di kunjungan pertama dua minggu yang lalu saya merasa beliau kurang memperhatikan karena saya pasien baru.

Malam ini adik dan kakak sepertinya sudah nyaman beristirahat. Tapi karena saya minum susu, mereka bangun lagi. Kalau sudah malam gini, biasanya nendangnya makin menjadi-jadi. Persis bapaknya lah, kalau sudah malam dan masih terbangun, makin menjadi-jadi aja ******-nya :p

Betul saja, tendangannya kuat sekali. Lalu terasa seperti seolah mereka menggelinding kesana kemari. Seolah mereka protes, “Ibuuuu, disini sempit!”. Ingin rasanya membelai mereka sambil berkata, “Percata deh Nak, kalau kita tidur berempat di kasur bakal lebih sempit lho. Jadi yang sabar ya. Bilang baik-baik ya sama Ibu, kalian butuhnya apa”.

Lucu sekali anak-anak ini. Kalau saya telat makan, mereka nendang. Saya makan dan kenyang, mereka nendang lagi. Saya tidur miring kiri atau kanan, mereka juga nendang. Setiap tendangan dan gerakan seolah bermakna sesuatu, seakan itu ekspresi perasaan mereka. Hehe..

Ini saya nggak lebay kan, berhubung nggak lama lagi insha Allah akan menjadi seorang ibu juga🙂

Anjing. So??!

Vulgar kah judulnya? Ah enggak kok. Saya cuma pengen bahas dua hal. Pertama, hastag #SaveAhok. Kedua, hastag #SaveHajiLulung.

Dear people, Ahok nggak perlu di “save” kali. Tahu kenapa? Karena kalau memang niat dan hatinya baik, dia bakal di “save” langsung sama Tuhan. Udah eneg banget rasanya lihat TL di FB yang statusnya bolak-balik menyudutkan Ahok. Apalagi kalau mereka yang begitu itu tinggal di Jakarta. Sebagai warga negara yang baik, bukannya seharusnya mendukung kinerja pemimpin jika itu berusaha mensejahterakan rakyatnya? Bukannya memerangi lantaran ketegasannya. Kalau mereka didudukkan di posisi Ahok, apa mereka bisa melakukan yang lebih baik? Enggak akan bisa, soalnya yang bakal mereka pedulikan itu pencitraan di depan rakyatnya. Ada yang nggak suka karena Ahok non muslim, ada yang nggak suka karena Ahok itu Cina, ada yang nggak suka karena kebijakannya Ahok berpotensi mengurangi ceperannya. Macam-macam lah, intinya satu, orang-orang macem itu telecekan banget kehadirannya di Jakarta.

Kedua, hastag #SaveHajiLulung. Guys please…malu banget yang kayak gitu disebut dengan embel-embel “Haji”. Lha wong orang yg biasa-biasa aja belum tentu suka dipanggil “Haji”, ataupun “Hajah”, lha ini orang kayak Lulung udah disebut “Haji” aja. Malu sama status hih!

Belum lagi segala umpatan yang keluar dari mulut anggota DPR-D itu. Yang saya ingat, adalah kata “anjing”. So what sama anjing? Siapa coba yang bikin salah? Siapa yang memicu keramaian? Siapa yang nggak punya rasa malu?

Yah,, ada satu hal yang saya yakini,, mereka anggota DPRD yang berkata begitu, tentunya nggak lebih baik dari anjing, hewan berkaki empat, itu sendiri.

Wonder

Salah nggak sih kalau sudah menikah tapi masih sering kangen sama yang bukan pasangan hidupnya?

About those days, those laughs that shared, those hopes, and all of those bittersweet memories..

What a Life..

Orang tua kerja keras banting tulang demi menghidupi keluarganya. Saya inget banget gimana dulu Bapak saya bolak-balik Jakarta-Surabaya buat ngerjakan pekerjaan, harus jauh dari rumah, tanpa asuransi kesehatan yang menjamin dirinya dan keluarganya, demi rupiah yang nggak banyak yang bisa digunakan buat makan keluarga. Apalagi ibu saya yang begadang sampai malam, malah kadang berhari-hari harus nggak tidur, bekerja dengan beberapa pekerjanya bikin pesanan kue, semua itu juga demi pundi-pundi rupiah untuk membayar biaya sekolah saya dan saudara-saudara, dengan harapan kami bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik dari yang mereka dapatkan saat itu.

Pendidikan, seolah menjanjikan lebih. Ijasah seolah mampu mengangkat bukan hanya status sosial tapi juga kondisi finansial. Orang bilang, anak pintar seperti kami punya masa depan cerah. Ah entahlah. Saya rasa ada masa dimana saya melakukan kebodohan-kebodohan yang menjadikan pilihan dalam hidup saya menjadi lebih terbatas. Semua itu bermula dari dalam diri sendiri. Misalnya egoisme sebagai anak muda yang menolak opsi-opsi menarik (sudah pernah saya tuliskan di tahun 2012-2013) karena cinta. Disitu orang tua bahkan nggak bisa “menjangkau” saya dan mengarahkan, karena komunikasi kami kurang terbuka. Kalau ingat masa-masa itu, saya benar-benar mengutuk yang namanya pacaran. Kesempatan nggak datang dua kali tapi kebodohan terjadi berkali-kali. Bahkan saya sampai menunda mengikuti ujian pelengkap untuk sidang skripsi lho!

Sedih rasanya kalau sekarang ingat masa itu. Menyesal. Lebih sedih lagi karena saat ini semua pengorbanan dari orang tua itu terasa bagai sia-sia, sayang. Bahkan setelah semua usaha dan jerih payah mereka agar kami dapat berdiri di atas kaki kami sendiri, saya masih belum bisa meraih cita-cita saya di usia segini. Janganlah bicara tentang cita-cita yang muluk-muluk, keinginan untuk bisa membantu meringankan beban mereka saja belum bisa saya penuhi..
Ini yang membuat saya merasa sedih dan merasa telah menyia-nyiakan jerih payah mereka. What a life..

What a New Life

Banyak yang nggak setuju saat saya memutuskqn resign dari kantor, baik orang tua maupun mertua. Tapi karena saya berpikir “kantor ini merugikan”, maka saya pikir lebih baik keluar. Lebih baik cari kantor atau perusahaan lainnya atau usaha sendiri. Tapi sayangnya, belum sempat itu terwujudkan, bahkan ketika saya baru ada ketertarikan dengan suatu perusahaan, saya dinyatakan hamil. Hamil kembar pula, padahal saat itu kehidupan keluarga baru saya baru saja dimulai dan kami masih dalam masa transisi.

Sekarang, jelang masa melahirkan, muncul lagi kebingungan kedua. Kali ini tentang pekerjaan suami. Masih bimbang untuk memutuskan apakah setelah melahirkan ini akan pindah ke Bandung baru mencari kerjaan atau mengerjakan apa saja yang harus dikerjakan disana, atau tetap bekerja di kantor lama di Jakarta lalu saya dan anak-anak ikut tinggal di Jakarta, ngontrak rumah. Sebetulnya pilihan kedua bukan pilihan yang menyenangkan kecuali suami kerja di kantor yang lebih bisa menyejahterakan karyawan yang sudah berkeluarga. Tapi saya merasakan ada rasa nggak setuju baik dari pihak mertua maupun orang tua kalau suami keluar dari kantor dan pindah ke Bandung sebelum mendapat pekerjaan baru.

Huff.. hal-hal yang bikin saya makin stress. What a new-real-life. Orang-orang bikin telinga saya panas dengan omongannya. Pengen banget rasanya setelah melahirkan bisa kembali bekerja. Bekerja di kantor yang nggak hanya bisa menghargai kinerja saya tapi juga hak sebagai seorang ibu dan istri.

Hamil Pertama #2

Setelah hasil TP menunjukkan saya hamil, maka saya dan suami sepakat untu ksegera memeriksakan ke dokter kandungan. Tapi siapa? Dimana? Kapan? Kebetulan suami harus “road show” (wkwkwkwk) pekerjaannya dalam minggu-minggu itu. Akhirnya diputuskanlah untuk periksa ke dokter setelah suami selesai berkeliling kota menyelesaikan tugas dinas luar kotanya.

Tanggal 7 September, hari Minggu, kami mendatangi RSUP Persahabatan. Ternyata poli kandungan tutup. Yaaaah.. Setelah tanya sana sini, kami akhirnya ke bagian UGD Kebidanan. Disana, kami ditanya-tanya dan sedikit “diceramahi” bahwa UGD bukan tempat kontrol. Hehehe.. Maklum Bu, kami kan pasangan muda dan baru ini juga mau punya anak. Mana tau kami kalau dokter kandungan gak praktek di hari Minggu. Hehehe..

Tanggal 8 kami kembali lagi ke RSUP Persahabatan, menuju Griya Puspa poli kandungan. Sudah mau muntah aja rasanya saat itu. Suami terus menemani dan menggandeng saya, wajahnya terlihat khawatir. Akhirnya kami melakukan check up kandungan untuk pertama kalinya.

Dokternya Dr. Lucky Savitri SpOG. Orangnya nggak banyak bicara, pintar, agak membingungkan, dan wajahnya mengingatkan saya pada salah satu guru jaman SMA dulu, Bu Hermin. Misterius nyebelin gitu. Hahahaha..

Pertama kali di USG, deg-degan banget. Saat alatnya menyentuh perut, saya super tegang. Saya selalu takut kalau bagian-bagian seperti perut, bawah pergelangan tangan, disentuh orang apalagi orang yang baru dikenal seperti Bu Dokter satu itu.

Di layar USG, kami bisa melihat bahwa rahim saya memang telah ada isinya. Ada kantung janin. “Ini namanya kantung janin”, beliau menjelaskan. “Kantung janinnya sudah ada ya, tapi embrionya belum kelihatan”. Beliau terlihat agak berpikir keras, agak cemas. Saya langsung khawatir terjadi apa-apa dengan kandungan saya. “Tapi kandungan saya baik-baik saja kan Dok?”, tanya saya. “Saya cuma bisa bilang, Ibu ini hamil dalam kandungan. Saya belum busa bilang tentang bayinya karena ini embrionya juga belum terlihat”.

Wuidiiiiihhhh…meskipun saya nggak terlalu ngeh apa yang beliau maksud, tapi saya langsung merasa lemas. Beliau memberikan resep yang nggak sempat kami tebus karena sudah terlanjur pengen muntah lagi saya nya.

“Kita tebus nanti aja ya”, kata saya. Sesudah itu, kami pulang naik angkot. Kantor suami dan kos kami berdekatan dan bisa dicapai oleh angkot yang sama. Saat itu rasanya saya ingin suami di kos aja, gak usah ke kantor dan menemani saya yang lagi galau sama si calon baby. Hehehe..

Oiya, sebelum syami saya pergi ‘roadshow’, saya sempat membuat macaroni schottel. Biasanya saya suka makan makanan itu, apalagi saya bikin dengan keju, krim keju, dan sosis serta kornet kualuras terbaik. Pas lagi bikin nya sih happy, tapi begitu matang dan aroma keju hangatnya menguar,, spontan saya pengen muntah. Hingga beberapa hari dan minggu ke depan saya jadi manusia yang benci makaroni, benci sosis, benci keju, dan sensitif dengan aroma, suara, dan pemandangan.

Yeah, selamat satang di dunia ibu hamil!!!😀

« Older entries